BAB 4_ZAMAN PRAAKSARA

 

PERIODESASI PERKEMBANGAN MASYARAKAT PRAAKSARA BERDASARKAN HASIL HASIL KEBUDAYAAN MATERIALNYA

 

Zaman Praaksara dibagi menjadi Zaman Batu dan Zaman Logam.

1.       Jaman batu

Berdasarkan cara memproses perkakas batu dan fungsi perakaks batu, jaman batu diperiodisasi menjadi 4 zaman:

a.       Jaman Paleolitikum (Zaman Batu Tua)

b.       Jaman Mesolitikum (Zaman Batu Madya/tengah)

c.       Jaman Neolitikum (Zaman Batu Baru/Batu Muda)

d.       Jaman Megalitikum (Zaman Batu Madya)

 

a.       Jaman Batu Tua (Palaeplithikum)

Perkakas yang terbuat dari batu yang masih kasar, sederhana, dan sangat primitif. Banyak ditemukan di Pacitan (Jawa Timur) dan Ngandong (Jawa Timur).

1)      Kebudayaan Pacitan

Alat batu berasal dari Pacitan disebut kapak genggam (Chopper) dan kapak perimbas. Alat berbentuk kecil disebut serpih. Peninggalan digunakan manusia purba jenis Meganthropus. Perkakas batu di pacitan:

Kapak Genggam

Ditemukan pertama kali oleh Von Koenigswald 1935 di Pacitan dan diberi nama kapak genggam karena serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan digunakan dengan cara menggenggam. Kapak genggam terkenal dengan nama kapak perimbas atau chopper artinya alat penetak. Kapak genggam/Chopper dipergunakan oleh manusia jenis Homo Erectus. Daerah penemuan di punung, jampang kulon, Parigi(jawa timur), tambang sawah, lahat, kalianda (sumatera), awangbakal (kalimantan), cabange (Sulawesi), sembiran dan terunyan (bali)

2)      Kebudayaan Ngandong

Alat dari tulang serta kapak genggam dari batu. Alat tulang dibuat dari tulang binatang dan tanduk rusa. Terdapat alat seperti ujung tombak bergerigi pada sisi-sisinya untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah. Hasil kebudayaan dari Homo Soloensis dan Homo Wajakensis. Ditemukan alat berbentuk kecil disebut Flakes, ada yang dibuat dari batu indah, seperti Chalcedon. Perkakas didaerah Ngandong, yaitu :

Alat Dari Tulang dan Tanduk à Ngandong dan Sidorejo dekat Ngawi, Madiun (Jawa Timur)

Ditemukan kapak genggam dan alat dari tulang dan tanduk. Alat dari tulang bentuknya seperti belati dan ujung tombak bergerigi pada sisinya. Fungsi alat tersebut untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah, serta menangkap ikan.

Flakes (Alat Serpih)

Alat kecil terbuat dari batu indah berwarna seperti calsedon. Berfungsi untuk menguiti hewan burun, mengiris daging, dan memotong umbi-umbian. Dikenal bernama Kebudayaan Ngandong. Manusia pendukung : Makhluk jenis Pithecanthropus erectus, pithecantropus robustus dan Meganthropus palaeojavanicus. Hidup jenis homo (manusia) : Homo soloensis dan Homo wajakensis.

Daerah penemuan berada di pacitan, gombong, Parigi, jampang kulon, ngandong, lahat (sumatera), battering (sumbawa), cabbenge (Sulawesi), wangka, soa, mangeruda (fores).

b.      Jaman Batu Madya (Mesolithikum)

Pada masa Holosen awal setelah jaman es berakhir. Pendukung kebudayaannya ialah Homo Sapiens yang merupakan manusia cerdas. Fosil manusia purba, banyak ditemukan di Sumatra Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Flores. Ciri kebudayaan Mesolithikum adalah manusia sudah menetap sehingga kebudayaan yang menonjol dan menjadi ciri yaitu kebudayaan Kjokkenmoddinger dan Abris sous Roche.

1)      Kjokkenmoddinger à Pantai Timur Sumatera, antara Langsa dan Medan

Denmark yaitu kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah. Kjokkenmoddinger adalah sampah dapur. Kjokkenmoddinger adalah timbunan kulit kerang dan siput mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu/menjadi fosil. Manusia purba yang hidup pada jaman ini sudah menetap. 1925, Dr. P.V. Van Stein Callenfels menemukan kapak genggam yang berbeda dengan Chopper (Jaman Palaeolithikum).

-          Kapak genggam dinamakan pebble atau kapak Sumatera (Sumatralith). Bentuk bulat, dari batu kali yang dibelah dua. Bentuk agak sempurna dan agak halus. Berasal dari batu kali yang dipecah-pecah.

-          Kapak bentuknya pendek (1/2 lingkaran) disebut Hache Courte atau kapak pendek. Penggunaannya dengan menggenggam.

-          Batu penggiling beserta landasannya untuk menggiling makanan dan penghalus cat merah yang digunakan acara keagamaan atau ilmu sihir.

2)      Abris Sous Roche

Abris sous roche adalah goa-goa yang dijadikan tempat tinggal dan berfungsi tempat perlindungan dari cuaca dan binatang buas. Dr. Van Stein C 1928-1931 di goa lawa. Perkakas seperti ujung panah, flakes, batu penggilingan, alat dari tulang dan tanduk. Alat yang ditemukan dari batu seperti ujung panah, flakes, batu pipisan, kapak sudah diasah dari jaman Mesolithikum, serta alat-alat dari tulang dan tanduk rusa.

3)      Sampung Bone Culture

Paling banyak ditemukan alat dari tulang sehingga sebagai Sampung Bone Culture/kebudayaan tulang dari Sampung. Goa di Sampung tidak ditemukan kapak pendek inti dari kebudayaan Mesolithikum. Selain di Sampung, Abris Sous Roche ditemukan di Besuki dan Bojonegoro Jawa Timur.

4)      Kebudayaan Toala

Di Sulawesi Selatan banyak ditemukan Abris Sous Roche di Lomoncong yaitu goa Leang Patae yang di dalamnya ditemukan flakes, ujung mata panah sisi-sisinya bergerigi dan pebble. Didiami suku Toala, sehingga oleh tokoh peneliti Fritz Sarasin dan Paul Sarasin, suku Toala yang  sampai sekarang Goa sebagai tempat tinggal. masih ada dianggap sebagai keturunan langsung penduduk Sulawesi Selatan jaman prasejarah. Untuk itu kebudayaan Abris Sous Roche di Lomoncong disebut kebudayaan Toala.

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa jaman Mesolithikum sesungguhnya memiliki 3 corak kebudayaan yang terdiri dari:

a.       Kebudayaan pebble/pebble culture di Sumatera Timur.

b.       Kebudayaan tulang/bone culture di Sampung Ponorogo.

c.       Kebudayaan flakes/flakes culture di Toala, Timor dan Rote.

Kecuali hasil-hasil kebudayaan, di dalam Kjokkenmoddinger ditemukan fosil manusia berupa tulang belulang, pecahan tengkorak dan gigi, manusia masa Mesolithikum adalah jenis Homo Sapiens. Manusia pendukung adalah ras bangsa Papua Melanosoide nenek moyang Suku Irian dan Melanosoid, Sakai, Aeta, dan Aborigin. Pusat pebble dan kapak pendek berasal dari pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh, di Asia Tenggara. Maka kebudayaan Kapak Genggam Pebble disebut Kebudayaan Bacson Hoabinh.

c.       Jaman Batu muda (Neolithikum)

Alat yang terbuat dari batu yang lebih sempurna dan lebih halus disesuaikan dengan fungsinya. Jenis kapak persegi dan kapak lonjong. Peralatan berasal dari batu yang sudah diasah, pertanian menetap, peternakan, serta pembuatan tembikar merupakan pengertian dari jaman Neolitikum. Hasil hasil kebudayaan :

1)      Kapak persegi

Van Heine Heldern atas dasar penampang lintangnya berbentuk persegi panjang / trapesium. Berukuran besar disebut beliung sebagai cangkul/pacul. Berukuran kecil disebut tarah/tatah sebagai alat pahat untuk mengerjakan kayu. Alat tersebut, terutama beliung diberi dengan tangkai. Berada di bagian barat, misalnya di daerah Sumatera, Jawa, dan Bali.

2)      Kapak Batu Chalcedon

Terbuat dari batu biasa dan batu api/chalcedon. Hanya dipergunakan sebagai alat upacara keagamaan, ajimat, tanda kebesaran. Manusia pendukung : Austronesia (austria), Austro-Asia (khamerindocina).

3)      Kapak Lonjong

Terbuat dari batu kali dan warnanya kehitaman berbentuk lonjong, diasah halus, dan diberi tangkai. Berfungsi sebagai kegiatan menebang pohon. Berada di Indonesia bagian timur, misalnya Irian, Seram, Tanimbar, dan Minahasa. Bentuk adalah bulat telur dengan ujung lancip menjadi tempat tangkainya, ujung lainnya diasah hingga tajam. Bentuk keseluruhan permukaan kapak lonjong diasah halus.   

Ukuran yang dimiliki kapak lonjong yang besar lazim disebut dengan Walzenbeil dan yang kecil disebut dengan Kleinbeil, sedangkan fungsi kapak lonjong sama dengan kapak persegi. Daerah penyebaran kapak lonjong adalah Minahasa, Gerong, Seram, Leti, Tanimbar dan Irian. Dari Irian kapak lonjong tersebar meluas sampai di Kepulauan Melanesia, sehingga para arkeolog menyebutkan istilah lain dari kapak lonjong dengan sebutan Neolithikum Papua. Pada jaman Neolithikum selain berkembang kapak persegi dan kapak lonjong juga terdapat barang-barang yang lain seperti perhiasan, gerabah dan pakaian. Perhiasan yang banyak ditemukan umumnya terbuat dari batu, baik batu biasa maupun batu berwarna/batu permata atau juga terbuat dari kulit kerang . Pakaian yang dikenal oleh masyarakat pada jaman Neolithikum dapat diketahui melalui suatu kesimpulan penemuan alat pemukul kayu di daerah Kalimantan dan Sulawesi Selatan, kesimpulan tersebut diperkuat dengan adanya pakaian suku dayak dan suku Toraja, yang terbuat dari kulit kayu.

d.      Jaman Megalithikum (Batu Besar)

"Mega" besar dan "Lithos" batu. Alat berupa bangunan batu besar bagi tempat beribadah arwah nenek moyang kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Berkembang dengan kebudayaan logam, yakni kebudayaan Dongson. Bentuk peninggalan terbuat dari batu besar: Kapak Lonjong.

1)      Menhir

Tugu atau tiang dari batu dan lambang peringatan arwah nenek moyang, mengikat binatang korban persebahan. Menhir benda pemujaan. Berfungsi sarana pemujaan arwah nenek moyang, tempat penampung roh dan tempat memperingati orang yang meninggal. Di Sumatera Selatan dan Kalimantan.

2)      Dolmen

Meja batu besar memiliki permukaan rata. Berfungsi tempat meletakkan roh, tempat duduk ketua suku agar memperoleh berkat magis leluhur dan tempat meletakkan sesaji. Memiliki alas berbentuk lempengan batu besar permukaan datar, diberikan empat batu panjang sebagai penyangganya.

3)      Punden Berundak undak

Bangunan bertingkat tanjakan kecil sebagai tempat memuja roh nenek moyang. Masing masing tingkat pundek berundak biasanya dibuat menhir. Berbentuk tumpukan batu bertingkat menyerupai anak tangga, bagian tertinggi sebagai tempat paling suci. Di daerah dataran rendah tidak berpegunungan maka mereka membuat bangunan tinggi semacam gunung yang dipuncaknya bersamayam arwah nenek moyang sesuai kepercayaan Animisme. Sebagai dasar pembuatan keraton, candi, dsb.

4)      Kubur peti batu

Peti jenazah yang dipendam dalam tanah. Bentuk persegi panjang dengan alas, sisi dan tutupnya berasal dari batu lalu disusun sebuah peti. Di daerah Kuningan, Jawa Barat.

5)      Waruga

Kubur batu bentuknya bulat atau kubus tutup menyerupai atap rumah. Berfungsi dan bentuk hampir sama sarkofagus. Posisi mayat keadaan jongkok terlipat. Di daerah Minahasa.

6)      Sarkofagus

Peti jenazah bentuknya menyerupai lesung, memiliki tutup dibagian atasnya. Menyerupai lesung batu, bentuknya keranda. Hasil kebudayaan pada jaman batu besar ini ditemukan di daerah Bali.

7)      Patung atau Arca

Berbentuk manusia atau binatang dari batu simbol pemujaan dan lambang nenek moyang. Di daerah pegunungan Bengkulu dan Palembang, di Dataran Tinggi Pasemah. Van Heine Geldern dan Dr.Van der Hoop penyelidikan di daerah Pasemah. Megalitikum berdasarkan pendapat Van Heine Geldern:

1)      Megalitikum tua penyebarannya jaman Neolotikum 2500 - 1500 SM. Berupa punden berundak, arca statis dan menhir. Dipengaruhi kebudayaan kapak persegi.

2)      Megalitikum muda penyebarannya jaman Perunggu 1000 - 100 SM. Berupa arca, kubur peti batu, waruga, sarkofagus dan dolmen. Dipengaruhi kebudayaan Dongson atau Deutro Melayu.

2.       Jaman logam ( Jaman Perundagian )

Kebudayaan Dongson Vietnam memperoleh kepandaian mengolah logam. Jaman logam terbagi : jaman besi, tembaga, dan perunggu. Manusia mengalami masa perundagian karena menghasilkan kerajinan tangan logam.

a.       Jaman perunggu

Perunggu adalah logam dari campuran tembaga dengan timah putih. Menciptakan dua macam benda untuk kepentingan upacara keagamaan dan keperluan sehari hari. Hasil kebudayaan jaman logam (perunggu) :

1)      Nekara Perunggu

Genderang besar dengan pinggang bagian tengahnya dan bagian atas tertutup serta pembuatannya dari perunggu. Fungsi untuk simbol status sosial dan sarana upacara (kematian / kesuburan), memanggil hujan dan memanggil roh leluhur agar turun kedunia memberikan berkatnya. Beberapa nekara yang memiliki hiasan tertentu.

2)      Kapak Corong atau Kapak Sepatu

Masa perunggu, terbuat dari mencetak logam tekhnik bilvolve maupun a cire perdue, kemudian diasah. Bagian penampang Kapak Corong tajam untuk membalik tanah layaknya cangkul, luku, tractor. Cara bercocok tanam dengan tekhnik bersawah. Memiliki bagian tanggkai menyerupai corong dan bagian tajamnya menyerupai kapak batu. Bagian corong untuk tempat pemasangan tangkai kayu yang menyiku menyerupai bentuk kaki. Memiliki ukuran dan bentuk yang beraneka ragam. Ada yang memiliki bagian tajam melengkung panjang (candrasa) dan lurus. Kemudian bagian tangkainya ada yang terbelah dua menyerupai ekor burung pada layang layang, ada yang lurus maupun melengkung. Fungsi kapak corong pada jaman perunggu ialah untuk mencangkul. Sedangkan kegunaan kapak corong kecil ialah untuk mengerjakan kayu. Adapula kapak corong dengan bagian tajam melengkung panjang yang berguna untuk tanda kebesaran kepala suku ataupun untuk upacara. Hasil budaya pada jaman logam seperti kapak corong ini biasanya dihiasi dengan beberapa pola hiasan jika digunakan untuk upacara. Penemuan kapak corong tersebut berada di Kepulauan Selayar, Sumatra Selatan, dekat Danau Sentani Papua, Jawa Bali, dan Sulawesi Tengah.

3)      Bejana Perunggu

Bentuknya menyerupai gitar Spanyol namun tidak memiliki tangkai. Mempunyai pola hiasan menyerupai huruf J dan hiasan anyaman. Penemuan di daerah Sumatra dan Madura. Berada di daerah Pnom Penh, Kamboja. Hasil peninggalan jaman perunggu ini menjadi bukti bahwa kebudayaan logam di Indonesia tergolong dalam satu kebudayaan logam Asia yang pusatnya terdapat di Dongson. Maka dari itu di Indonesia terdapat kebudayaan jaman perunggu yang disebut kebudayaan Dongson. Kebudayaaan jaman perunggu merupakan hasil asimilasi antara masyarakat asli Indonesia (proto melayu) dengan bangsa mongoloid sehingga membentuk ras deutro melayu (melayu muda).

b.      Jaman besi

Melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat alat keperluan (pisau, sabit, mata kapak, pedang, dan mata tombak). Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga dan perunggu sebab membutuhkan panas sangat tinggi. Pembuatan alat besi memerlukan tehnik khusus yang hanya dimiliki golongan undagi. Alat besi yang dihasilkan: Mata Kapak bertungkai kayu, Mata Pisau, Mata Sabit, Mata Pedang, Cangkul, ditemukan di Gunung Kidul, Bogor (Jawa Barat), Besuki dan Punung (Jawa Timur).

Tekhnik Pembuatan Hasil Kebudayaan jaman Logam :

1.       Teknik Cetak Tuang (Teknik a Cire Perdue)

Langkah langkah pembuatan benda logam menggunakan teknik tersebut yaitu meliputi:

a)       Membuat model logam menggunakan lilin dan bahan dasar sesuai keinginan.

b)      Lapisi model lilin menggunakan tanah liat. Setelah tanah liat mengeras kemudian dipanaskan dengan api sehingga dapat mencairkan lilin melalui lubang bawah dibagian modelnya.

c)       Bagian atas model dipersiapkan lubang untuk memasukkan cairan logam. Lalu tunggu sampai dingin cairan logamnya.

d)      Pecahkan model tanah liat setelah logam cairnya dingin. Benda logam yang diinginkan telah jadi.

Kelebihan yaitu detail benda yang diinginkan lebih sempurna. Kekurangan yaitu dapat menggunakan cetakan modelnya sekali saja.

2.       Teknik Dua Setangkup atau Teknik Bivalve

Langkah- langkah pembuatan benda logam menggunakan teknik tersebut yaitu meliputi:

a)       Membuat cetakan model dengan model yang ditangkupkan.

b)      Setelah itu logam cair dituangkan dalam cetakan tadi.

c)       Lalu saling ditangkupkan kedua cetakan tersebut.

d)      Tunggu sampai logam dingin sehingga dapat dibuka cetakannya.

e)      Benda logam yang dibuat telah jadi.

Kelebihan yaitu menggunakan cetakannya berulang kali. Kekurangan yaitu benda logam yang telah jadi terdapat rongga di dalamnya sehingga bendanya tidak terlalu kuat.

 

PERKEMBANGAN KEHIDUPAN MASYARAKAT PRA-AKSARA BERDASARKAN CORAK KEHIDUPANNYA

Masa Pra aksara adalah masa dimana belum ditemukannya tulisan. Berdasarkan corak kehidupan masyarakat pra-akasara dibagi menjadi masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam dan beternak, serta masa perundagian atau masa kemahiran teknik.

1.       Masa Berburu dan Meramu / mengumpulkan makanan (food gathering).

Mempunyai ketergantungan yang besar terhadap apa yang disediakan oleh alam.

Di hutan : berburu binatang kerbau liar, rusa, gajah, banteng, badak.

Di pantai : menangkap ikan dan kerang.

Kaum laki-laki : kegiatan berburu

Wanita : mengumpulkan makanan yang tersedia di alam (ubi, buah-buahan, daun dan kacang kedelai)

Berlangsung jaman batu tua (Palaeolithikum). Perkakas terbuat dari batu utuh dan belum diproses. Berdasarkan pola kehidupannya dibagi menjadi 2 tahapan:

a.       Masa Berburu dan Meramu Tingkat awal

Lingkungan sekitar masih liar, banyak gunung berapi aktif dan meletus, keadaan bumi belum stabil

Manusia purba dari Jenis Phitecanthropus dan Homo Wajakensis

1)      Pola Kehidupan Ekonomi dan Pola Hunian

Perkakas terbuat dari batu masih utuh belum diproses sehingga belum digunakan untuk bercocok tanam. Alat untuk memotong daging dan tulang binatang buruan (kapak perimbas). Kapak perimbas terbuat dari batu dan tidak memiliki tangkai, belum bisa untuk bercocok tanam sehingga untuk memenuhi kebutuhan mengumpulkan makanan dari alam dan mengolahnya (Food gathering). Kehidupan bergantung pada alam, jika makan di daerah sekitar habis akan pindah ke daerah yang banyak tersedia makanan sehingga mendorong untuk melakukan pola kehidupan berpindah (Nomaden).

2)      Sistem Kemasyarakatan

Hidup berkelompok-kelompok dalam jumlah kecil. Hubungan erat karena bersama menghadapi kondisi alam yang berat, sehingga sistem kemasyarakatan sederhana. Banyak waktu dihabiskan untuk mencari makan. Hidup berkelompok dan berbagi makanan menguatkan hubungan dan membuat bertahan hidup lebih mudah. Laki-laki bertugas berburu. Perempuan bertugas mengolah makanan, mengurus anak, dan mengajari anak cara meramu makanan

3)      Ciri-ciri kehidupan masa berburu dan meramu tingkat awal:

a)       Manusia hidup secara nomaden (tempat tinggal berpindahpindah).

b)      Kebutuhan untuk hidup sangat bergantung pada alam.

c)       Alat-alat bantu yang digunakan dibuat dari batu yang masih kasar.

d)      Meraka belum mengenal bercocok tanam.

Manusia purba hidup secara berpindah-pindah (nomaden), yang mempengaruhinya yaitu :

1.       Pergantian musim, musim kemarau menyebabkan hewan buruan yang merupakan sumber makanan berpindah tempat untuk mencari sumber air yang lebih baik

2.       Umbi-umbian dan binatang buruan di sekitar mulai berkurang

b.      Masa Berburu dan Meramu Tingkat Lanjut

Masa peralihan dari food gathering menuju food producing. Alat : kapak perimbas, alat serpih (flakes) dan alat tulang dan tanduk rusa. Berlangsung masa Messolithikum ditandai perubahan tradisi dari mengumpulkan makan (food gathering) ke menghasilkan sendiri makanan (food Producing). Kapak Genggam Pebble untuk menggemburkan tanah dengan bercocok tanam cara berkebun. Masa Messolithikum perkakas terbuat dari batu diproses sederhana dengan membelah dua bagian yang memiliki sisi tajam untuk bercocok tanam secara berkebun.

1)      Pola kehidupan Ekonomi dan Pola Hunian

Sudah bercocok tanam sederhana dengan cara berkebun menunggu hasilnya, mendorong menjalankan pola kehidupan menetap sementara (semi sedenter) karena mampu mengumpulkan makanan banyak, lebih lama mendiami suatu tempat. Harus memenuhi kebutuhan makanan dari berburu, maka jika makan di alam habis akan berpindah tempat (nomaden), kemudian menetap lagi untuk beberapa waktu. Pengetahuan berkembang untuk menyimpan dan mengawetkan makanan. Daging binatang diawetkan dengan cara dijemur lalu diberi ramuan. Bertempat tinggal di gua (abris sous roche) yang letaknya tinggi di lereng bukit untuk melindungi diri dari iklim dan binatang buas.

2)      Sistem Kemasyarakatan

Mengenal pembagian kerja. Kegiatan berburu dilakukan laki-laki. Wanita banyak di sekitar gua-gua tempat tinggal.

3)      Sitem Kepercayaan

Ditemukan penguburan di Gua Lawa, Sampung, Ponorogo, Jawa Timur; Gua Sodong, Besuki, Jawa Timur; dan Bukit Kerang, Aceh Tamiang, Aceh. Gua sebagai tempat tinggal. Dari mayat yang dikuburkan ada yang ditaburi cat merah yang berhubungan dengan upacara penguburan untuk membuktikan kehidupan baru di alam baka. Di dinding Gua Leang Pattae, Sulawesi Selatan ditemukan lukisan cap tangan dengan latar belakang cat merah artinya kekuatan pelindung untuk mencegah roh-roh jahat. Ada beberapa gambar jari yang tidak lengkap.

4)      Ciri-ciri kehidupan

a)       Manusia purba yang tinggal dekat dengan pantai mencari makanan di laut yang kemudian meninggalkan sampah dapur bekas sisa makanan disebut Kjokenmoddinger.

b)      Mengenal bercocok tanam masih sederhana (berpindah-pindah tergantung kesuburan tanah)

c)       Hidup berkelompok menempati gua secara semisedenter (tinggal cukup lama di suatu tempat). Gua yang dihuni pada bagian atasnya dilindungi karang atau Abris Sous Roche.

d)      Pembagian tugas yaitu pria bertugas berburu dan wanita bertugas bercocok tanam.

2.       Masa Bercocok Tanam

a.       Masa Bercocok Tanam Tingkat Awal

1)      Pola Kehidupan Ekonomi dan Pola Hunian

Bercocok tanam dan beternak hewan. Berlangsung sejak Jaman Neolithikum. Pendukung kebudayaan dari homo sapiens (makhluk cerdas) berasal rumpun Melayu. Perubahan cara memenuhi kebutuhan dari berburu dan mengumpulkan makan (food gathering) ke menghasilkan bahan makanan (food producing). Perubahan pola hunian dari berpindah tempat (nomaden) ke menetap (sedenter). Perkakas yaitu Kapak Persegi dan Kapak Lonjong dari mengasah batu karena kepandaian mengasah (mengupam). Perkakas tajam untuk menggali tanah berladang. Cara bercocok tanam berladang waktu lama untuk dipanen, sehingga pola kehidupan menetap. Bercocok tanam, hutan belukar dijadikan ladang dengan menanam cara tradisional, sehingga tanah tidak subur dan tidak dapat ditanami lagi sehingga mengharuskan berpindah mencari tanah subur. Sistem bercocok tanam disebut Sistem ladang berpindah (berhuma) seperti di Papua dan Kalimantan

2)      Sistem Kemasyarakatan

Tempat tinggal yang tetap. Eratnya hubungan antar manusia cermin bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Melalui cara bekerja dengan bergotong royong, misal pekerjaan bertani, merambah hutan, berburu, membangun rumah. Cara hidup bergotong royong bersifat agraris. Terlihat peran pemimpin (primus inter pares). Gelar pemimpin adalah ratu atau datu(k) artinya terhormat dan patut dihormati karena kepemimpinannya, kecakapannya, kesetiaannya, pengalamannya.

3)      Sistem Kepercayaan

Mempunyai konsep alam dan kehidupan setelah kematian. Roh tidak lenyap waktu meninggal. Penghormatan nenek moyang berlanjut pemujaan. Kepercayaan diwujudkan upacara keagamaan (persembahan leluhur) dan upacara penguburan mayat. Meminta perlindungan dari ancaman kelompok lain, binatang buas, dan wabah penyakit. Mendorong berkembangnya kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme memuja roh nenek moyang, dinamisme benda memiliki kekuatan gaib, sehingga dihormati dan dikeramatkan. Contoh kapak dari batu chalcedon (batu indah).

4)      Ciri ciri kehidupan masa bercocok tanam dan berternak:

a.       Tekhnologi menghasilkan perkakas telah berkembang dengan dihasilkannya Kapak Lonjong dan Kapak Persegi batu yang diasah

b.       Menetap di suatu wilayah secara berkelompok, dipengaruhi pola kehidupan ekonomi sudah bercocok tanam dan berternak sehingga tidak memungkinkan berpindah pindah.

c.       Pola pembagian kerja akibat kegiatan bercocoktanam membutuhkan waktu dan perhatian fokus, berprofesi petani, pembuat perkakas kegiatan pertanian (Kapak Lonjong, Kapak Persegi, Tembikar)

d.       Sistem perdagangan cara barter yaitu tukar menukar barang dengan barang, dipengaruhi adanya pembagian kerja saat itu.

e.       Menguasai ilmu astronomi saat berpindah dari daratan Yunan ke kepulauan nusantara akibat kondisi bumi sempurna (jaman Holosen). Sarana transportasi digunakan yang menetap di perairan.

b.      Masa Bercocok Tanam Tingkat Lanjut (Masa Perundagian)

1)      Pola Kehidupan Ekonomi dan Pola Hunian

Keterampilan membuat alat dari bahan perunggu untuk memenuhi kebutuhan seperti peralatan bertani, upacara, dan berburu. Kepandaian membuat perkakas dari logam yaitu Kapak Corong. Kapak Corong adalah logam yang diasah tajam untuk membalik tanah. Sistem persawahan, sehingga tidak bergantung pada humus, dan berusaha mengatasi kesuburan melalui kegiatan pengolahan tanah, irigasi dan pemupukan. Mata pencaharian utama adalah bertani lebih teratur dan maju yaitu menggunakan sistem pengairan dan terasering dalam membuat sawah. Kemajuan perekonomian ditandai berkembangnya perdagangan. Teknologi untuk membuat logam dan gerabah.

2)      Sistem Kemasyarakatan

Konsep pimpinan semakin terlihat. Pola kehidupan perkampungan perkembangan besar, karena bersatunya beberapa kampung disebabkan tingginya frekuensi perdagangan antar perkampungan dalam bentuk barter (tukar menukar barang).

3)      Sistem Kepercayaan

Animisme dan Dinamisme. Banyak bangunan megalitikum sebagai tempat pemujaan dan penghormatan terhadap roh nenek moyang.

4)      Ciri – ciri kehidupan masa perundagian :

a)       Mengolah logam khususnya perunggu dan besi membedakan dari masa sebelumnya yang belum mengenal logam.

b)      Masyarakatnya sudah teratur.

c)       Kelompok mempunyai keahlian khusus, buktinya masyarakat terdapat pembagian kerja yang baik.

d)      Bahan membuat perkakas logam seperti perunggu, timah, dan besi harus didatangkan dari suatu tempat sehingga terdapat perdagangan.

e)      Kemakmuran pada waktu itu antar lain disebabkan perkembngan tehnik pertanian khusunya alat-alat besi seperti cangkul dll dan merek telah mengenal bersawah.

f)        Kepercayaan, upacara lebih mewah dan rumit, benda lebih indah karena terbuat dari perunggu.

3.       Pengaruh Hasil Dan Nilai Budaya masyarakat Praaksara Pada Masa Sekarang

Nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki konsep konsep umum budaya masa prasejarah yang sangat penting dan bernilai bagi kehidupan masyarakat prasejarah di Indonesia. Konsep-konsep umum dan penting itu hingga kini masih tersebar luas di kalangan masyarakat Indonesia. Seperti hasil penelitian DR. JL. Brandes bahwa sebelum datangnya budaya Hindu Budha dari India sesungguhnya masyarakat Indonesia sudah memiliki dasar dasar kebudayaan yang cukup tinggi. Terdapat 10 unsur pokok kebudayaan asli Indonesia sebelum datangnya budaya dari India, yang menunjukan bahwa nilai-nilai budaya masa prasejarah Indonesia itu masih terpelihara hingga saat ini dalam bentuk kegiatan-kegiatan berikut: a. Mengenal Astronomi Pengetahuan tentang astronomi sangat penting dalam kehidupan mereka terutama pada saat berlayar waktu malam hari. Astronomi juga, penting artinya dalam menentukan musim untuk keperluan pertanian. b. Mengatur Masyarakat Dalam kehidupan kelompok masyarakat yang sudah menetap diperlukan adanya aturan-aturan dalam masyarakat. Pada masyarakat dari desa-desa kuno di Indonesia telah memiliki aturan kehidupan yang demokratis. Hal ini dapat ditunjukkan dalam musyawarah dan mufakat memilih seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang dipilih itu diharapkan dapat melindungi masyarakat dari gangguan masyarakat luar maupun roh jahat dan dapat mengatur masyarakat dengan baik. Bila seorang pemimpin meninggal, makamnya dipuja oleh penduduk daerah itu. Modul Sejarah Indonesia_X_3.4 dan 4.4 @2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN 31 c. Sistem Macapat Anak anak hebat Indonesia … pernahkah kalian memperhatikan struktur tata kota di daerah tempat tinggal kalian… ? coba kalian perhatikan apakah di kota kalian terdapat alun alun yang di keempat penjurunya terdapat pusat kantor pemerintahan, rumah ibadah, pasar dan penjara , jika ada maka struktur tata kota di daerah kalian masih menggunakan system tata kota warisan nenek moyang bangsa Indonesia. System tata kota seperti itu disebut macapat Sistem macapat merupakan suatu tatacara yang didasarkan pada jumlah empat dan pusat pemerintah terletak di tengah-tengah wilayah yang dikuasainya. Pada pusat pemerintahan terdapat tanah lapang (alun-alun) dan di empat penjuru terdapat bangunan-bangunan yang penting seperti keraton, tempat pemujaan, pasar, penjara. Susunan seperti itu masih banyak ditemukan pada kota-kota lama. Gambar pola tata kota lama berdasarkan sistem macapat.sumber:http://Wikipedia.com d. Kesenian Wayang Pernah kalian menonton pertunjukan wayang, dan tahukah kalia asal mula diadakannya seni pertunjukan wayang … ? Munculnya kesenian wayang berpangkal pada pemujaan roh nenek moyang. Jenis wayang yang dipertunjukkan adalah wayang kulit, wayang orang dan wayang golek (boneka). Cerita dalam pertunjukkan wayang mengambil tema tentang kehidupan pada masa itu dengan tokohnya Semar, Petruk, gareng atau yang sering dikenal sebagai punakawan dan setelah mendapat pengaruh bangsa Hindu muncul cerita Mahabarata dan Ramayana dengan tokoh tokoh dari cerita tersebut seperti Bima , Gatot Kaca, Rama, Shinta dan lain lain. Modul Sejarah Indonesia_X_3.4 dan 4.4 @2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN 32 e. Seni Gamelan Seni gamelan menggunakan perangkat alat musik yang terdiri dari satu set peralatan musik terbuat dari logam yang dicetak sedemikian rupa, sehingga menghasilkan bunyi bunyian yang serasi. Penggunaaan perangkat gamelan tersebut merupakan warisan dari jaman logam . untuk mengiringi pertunjukkan wayang dan dapat mengiringi pelaksanaan upacara. Gambar seperangkat alat music gamelan . Sunber.http://wikipedia.com f. Seni Membatik Seni membatik merupakan kerajinan untuk menghiasi kain dengan menggunakan alat yang disebut canting. Hiasan gambar yang diambil sebagian besar berasal dari alam lingkungan tempat tinggalnya. Di samping itu ada seni menenun dengan beraneka ragam corak. Wayang kulit. Sumber. http://wikipedia.com Modul Sejarah Indonesia_X_3.4 dan 4.4 @2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN 33 Gambar canting kegiatan membatik corak batik tradisional. Sumber. http://wikipedia.com g. Seni Logam Seni membuat barang- barang dari logam menggunakan teknik a Cire Perdue. Teknik a Cire Perdueadalah cara membuat barangbarang dari logam dengan terlebih dulu membentuk tempat untuk mencetak logam sesuai dengan benda yang dibutuhkan. Tempat untuk mencetak logam sesuai dengan benda yang dibutuhkan. Tempat untuk mencetak logam itu ada yang terbuat dari batu, tanah liat, dan sebagainya. Pada tempat cetakan itu dituang logam yang sudah dicairkan dan setelah dingin cetakan itu dipecahkan, sehingga terbentuk benda yang dibutuhkannya. Barang-barang logam yang ditemukan sebagian besar terbuat dari perunggu. h. Bercocok tanam padi di sawah Bercocok tanam sudah menjadi bagian penting bangsa ini sejak dahulu kala. Kemampuan menanam padi dengan tekhnik bersawah sudah dikuasai sejak Zaman Logam dengan dengan dihasilkannya kapak Corong yang memiliki fungsi seperti cangkul . Dapat dikatakan kapak Corong adalah protype dari cangkul. Hal inilah yang menyebabkan indonesia menjadi salah satu negara agraris. Modul Sejarah Indonesia_X_3.4 dan 4.4 @2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN 34 Gambar aktifitas bercocok tanam padi. Sumber. http://wikipedia.com i. Mengenal alat tukar dalam perdagangan Sebelum mengenal alat tukar seperti uang, emas, perak, masyrakat Indonesia menggunakan sistem barter dalam kegiatan perdagangannya yang dimulai sejak Zaman Neolithikum . Yaitu menukar barang dengan barang. j. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam pelayaran Saat masih duduk di Sekolah Dasar tentu kalian pernah mendengar bahkan menyanyikan lagu "Nenek moyangku seorang pelaut" . Hal tersebut bukan hanya sekedar nyanyian namun memang sejak jaman dahulu nenek moyang bangsa Indonesia sudah mahir dalam mengarungi lautan dengan mengandalkan ilmu astronomi sederhana. Hal ini mereka lakukan untuk melakukan perpindahan dari daratan Yunan , Tiongkok sebagai tempat asal ras Melayu Autronesia ( Deutro Melayu ) yang merupakan nenk moyang bangsa Indonesia pada Jaman Logam . Bukti keberadaan perahu bercadik sebagai alat transportasi nenek moyang bangsa Indonesia juga terdapat pada salah satu relief candi Borobudur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESTABILAN UNSUR -IKATAN KIMIA